Tragedi Bintaro 31 Tahun Lalu Selalu Bikin Merinding (1)

Tragedi Bintaro 31 Tahun Lalu Selalu Bikin Merinding (1)

Tragedi Bintaro yang terjadi pada hari Senin jam 6.45 tanggal 19 Oktober 1987 adalah kecelakaan kereta api yang paling dahsyat sepanjang sejarah perkeretaapian di Indonesia. Akibat kecelakaan itu sebanyak 156 orang dinyatakan tewas. Lokasi kecelakaan berada di daerah Pondok Betung, Bintaro, Tangerang.



Dua kereta api sarat penumpang bertabrakan secara tragis di jalur yang sama. Dua kereta itu adalah KA 225 dari Rangkasbitung menuju Jakarta dan KA cepat 220 jurusan Tanahabang menuju Merak.

Kedua kereta itu mestinya bersilangan di stasiun Sudimara namun para petugas PPKA baik di Bintaro maupun Kebayoran saling melepaskan kereta sehingga terjadilah tabrakan di jalur yang sama. Braaak!!

Tabrakan ini menimbulkan dentuman keras karena beradunya dua lokomotif hingga menimbulkan rangkaian kereta terguling. Korban pun berjatuhan. Jeritan dan hujan air mata korban yang selamat membanjiri Bintaro. Darah merah pun mengering dimana-mana, di tanah Bintaro. Semua berbela sungkawa, sedih.

Selama beberapa hari duka mendalam menyelimuti tragedi transportasi massal. Beberapa tahun kemudian kejadian ini sempat difilmkan dan Iwan Fals pun menciptakan lagu kejadian ini.

Yang paling merinding adalah ketika kasus ini diingat kembali. Dalam penelusuran media, antara lain arsip Kompas.com (19/10/2017), kejadian ini meninggalkan duka mendalam. Mayat-mayat bergelimpangan.

Sekadar membandingkan saja, Saya sebagai korban selamat dari kecelakaan KRL di Citayam tahun 1993 yang korbannya juga lebih dari 30 orang tewas bisa merasakan bagaimana puluhan orang terjepit, terlempar dan tertindih badan kereta. Apalagi ini kasus Bintaro yang korbannya 156 orang tewas.

Maka bisa dibayangkan betapa warga dan petugas kewalahan membantu mengevakuasi korban, baik yang selamat maupun meninggal dunia.

Evakuasi korban mengalami kesulitan karena tidak ada alat canggih untuk memotong badan kereta waktu kejadian. Korban terjepit di persambungan kereta. Di posisi inilah banyak penumpang meninggal. Banyak korban terpisah antara badan dan anggota tubuhnya karena kerasnya benturan adu besi.

Lokasi kejadian dalam beberapa hari pun setiap malamnya diadakan tahlilan. Cara ini dilakukan untuk mendoakan para korban dan meminta ampun atas dosa-dosa para korban kecelakaan.

Praktis, dalam beberapa minggu ketika itu, kasus kecelakaan kereta api di Bintaro seperti menjadi hari berkabung nasional karena koran-koran dan radio memberitakannya di halaman utama.

Tragedi Bintaro menjadi awal evaluasi seluruh sistem perkeretaapian, mulai dari pembuatan jajur ganda atau double track dan sistem digitalisasi lalu lintas perkereta-apian. (bersambung/fur/17/10/2018)

Sumber


Contact Us

Name

Email *

Message *

Categories

Powered by Blogger.

Arsip Blog