Di Jepang Keperawanan Adalah Barang Langka, Keperawanan Gadis Mudanya Selesai di Masa SMA

Di Jepang Keperawanan Adalah Barang Langka, Keperawanan Gadis Mudanya Selesai di Masa SMA

Arip Official/UnikSeru--- Keperawanan bagi orang Indonesia merupakan sesuatu yang sangat penting dan penuh harga diri. Agama yang dianut oleh orang Indonesia juga sangat melarang adanya perzinahan. Namun di Jepang, kultur semacam itu adalah kebalikannya.



Di Jepang melepas keperawanan bagi cewek di usia muda merupakan hal lumrah. Bahkan ada juga anggapan “rasa malu” dalam diri para pemudinya jika di usia 25 tahun, tapi masih perawan. Oleh karena itu jangan heran jika di Jepang tempat lokalisasi dilegalkan, toko sextool terbuka lebar, produksi film porno terus bertumbuh. Pemerintah Jepang seakan menyediakan ruang bagi kultur kebebasan itu.

Dikutip dari kompas.com (diakses 14/10/2018), setidaknya hanya 38,7 % saja dari gadis berusia 18-34 tahun (dari sampel penelitian) yang menyatakan masih perawan di Jepang. Itu artinya 62 % lebih sudah tidak perawan. Rupanya ada beberapa hal di Jepang yang membuat kondisi masyarakatnya jadi seperti itu.

1) Tren Melepas Keperawanan di Masa SMA

Dikutip dari laman keepo.me (diakses 14/10/2018), sebuah penelitian yang menggunakan metode survey terbatas mengemukakan temuan yang mencengangkan, yakni bahwa 57 % gadis Jepang kehilangan keperawanannya di masa SMA. Tren ini terjadi secara alamiah dari perkembangan pergaulan dan budaya sosial orang Jepang, mungkin juga kebebasan atas akses informasi.

2) Orang Tua Tak Kuasa Tenggelam dalam Peradaban Zaman



Zaman memang terus berputar dan mengalami revolusi, baik dari sistem pemerintahannya maupun peradaban akhlak dan moralitasnya. Ayah dan Ibu dari si gadis sebenarnya sangat mudah mengetahui bagaimana hubungan antara anak gadisnya dengan sang pacar.

 Bahkan semisal orang tua menanyakan tentang “hubungan intim” dengan sang pacar, apakah sudah melakukannya atau belum, maka setelah orang tua mengetahuinya, mereka hanya akan berkomentar biasa saja seperti halnya mengomentari kegiatan sekolah.

 Para orang tua sebetulnya berharap anaknya melepas keperawanan setelah menikah, tetapi jika sudah telanjur, mau bagaimana lagi? Orang tua biasanya hanya cuek mengetahui kenyataan itu.

3) Pergaulan Bebas di Luar Nikah Adalah Hal Jamak dan Lazim



Dikutip dari budayajepang.wordpress.com (diakses 07/10/2018), ada cerita unik dari seorang blogger Indonesia yang tinggal di Jepang, yang mungkin, cerita nyata ini, bisa menggambarkan betapa lazimnya pergaulan bebas di sana.

 Jadi, di sebuah acara pesta pernikahan, tersaji sesi pemutaran cuplikan foto dan video perjalanan kedua mempelai lewat layar proyektor. Ditampilkanlah foto-foto perjalanan kisah asmara kedua mempelai mulai dari masa berkenalan hingga menikah, dan unik-anehnya, di akhir sesi pemutaran, ditampilkan pula foto hasil tes urin mempelai perempuan yang positif hamil

. Lucu bukan? Baru saja menikah tapi sudah langsung mengumumkan kehamilan. Dan semua tamu bersorak mengucapkan selamat. Di Indonesia, hamil sebelum menikah adalah aib yang memalukan. Apalagi disiarkan pas pesta pernikahan?

Jepang memang selalu menarik untuk diulas karena keragaman kebudayaannya. Negeri sakura ini tentu saja memiliki ideologi, sistem hidup, keyakinan, dan kultur kehidupannya sendiri. Tidak semua yang baik bagi Jepang, baik juga untuk kita, pun tidak semua yang ada di negara kita ini buruk dan terbelakang. Bersyukurlah kita hidup di Indonesia yang masih memegang erat budaya malu jika melakukan perzinahan atau kumpul kebo, meskipun zaman agaknya kian beringas menggilas moralitas manusia.

Sumber


Contact Us

Name

Email *

Message *

Categories

Powered by Blogger.

Arsip Blog